The Breadwinner (2017). Film animasi drama yang diproduksi oleh Cartoon Saloon (Irlandia), Aircraft Pictures (Kanada), dan Melusine Productions (Luksemburg).
Animasi berdurasi 1 jam 34 menit ini berlatar belakang di Afghanistan pada tahun 2001. Menceritakan Parvana, gadis muda yang hidup di sebuah kota kecil, Kabul. Dimana kebijakan Taliban sangat mengikat dan membatasi gerak-gerik perempuan.
Aturan dan kebijakan yang diterapkan oleh kelompok Taliban berdasarkan dari interpretasi ultra-konservatif atas syariah Islam, yang dipadukan dengan budaya suku Pashtun (Pashtunwali), serta ajaran Islam Deobandisme.
Sayangnya, budaya suku Pashtun sangat menjunjung tinggi patriarki, sehingga suasana terjerat dan terbatasi sangat kuat dari sudut pandang Parvana.
Animasi ini menceritakan perjuangan Parvana yang ingin menjemput ayahnya dari penjara setelah ayah Parvana, Nurullah, ketahuan dan ditangkap oleh kelompok Taliban. Ia membawa Parvana untuk membantunya berjualan di pasar, dan ia juga mengajari Parvana untuk membaca.
Ayah Parvana ditangkap secara tiba-tiba oleh kelompok Taliban dirumahnya, ketika keluarganya sedang makan malam, ayahnya langsung diseret begitu saja, oleh kelompok Taliban, dan salah satunya merupakan mantan murid dari ayahnya Parvana, Idrees.
Kemudian, demi menghidupi keluarganya, Parvana memotong rambutnya, memakai pakaian laki-laki milik kakaknya yang sudah meninggal, Sulayman. Parvana juga mengganti namanya menjadi Aatish agar tidak mudah dicurigai.
Setelah melakukan pilihan besar itu, Parvana langsung merasa hidupnya lebih bebas, dia bisa berjalan kesana kemari, membeli makanan di pasar, dan bekerja mendapat upah. Apalagi ketika Parvana menemukan temannya, Shauzia yang menyamar menjadi laki-laki juga dengan nama Deliwar.
Mereka pun bekerja bersama, Parvana juga bercerita tentang upayanya selama ini untuk pergi ke penjara demi menjemput ayahnya. Dimana tepat setelah hari ayahnya dibawa ke penjara, Parvana dan ibunya pergi menuju penjara dengan berjalan kaki.
Hanya dengan modal membawa gambaran ayahnya, mereka berdua bertekad menempuh jarak yang jauh. Namun, ditengah perjalanan, kelompok Taliban yang melihat ibu Parvana yang memakai Burka berjalan sendirian tanpa mahramnya, kelompok Taliban itu langsung melakukan tindakan kekerasan kepada ibunya Parvana. Membuat keduanya akhirnya pulang dengan sia-sia.
Hingga akhirnya setelah Parvana sudah cukup lama menjadi Aatish, ibunya sudah tidak tahan lagi, ia meminta bantuan ke sepupu jauhnya untuk meminta menikahi kakak perempuan Parvana, Soraya. Sehingga mereka bisa keluar dari Kabul dan memiliki mahram laki-laki.
Namun Parvana yang bertekad tetap memilih untuk membawa ayahnya pergi dari penjara, walaupun ibu dan kakaknya bersikeras bahwa sudah tidak ada kemungkinan ayahnya bisa keluar. Maka dari itu Parvana kabur dari rumah, karna tinggal satu langkah lagi menuju keberhasilan dari rencananya selama ini.
Ibu dan kakaknya yang tahu Parvana kabur dari rumah merasakan kepanikan yang tidak bisa terbendung, karna ternyata selama ini Amerika sudah mulai melakukan invasi ke Afghanistan, dan akan mulai perang pada sore hari. Memori akan kematian Sulayman yang tidak sengaja memegang bom karna dianggap mainan langsung memenuhi pikiran mereka.
Parvana sampai di penjara pada sore hari, ia berteriak di depan gerbang penjara yang tebal, memanggil satu nama yang selama ini membantunya, Razaq. Mantan murid dari ayahnya, merupakan kelompok Taliban juga, namun ia membantu Parvana karna ia pernah dibantu dibacakan surat wasiat dari istrinya di luar kota oleh Aatish.
Razaq akhirnya keluar dari gerbang, panik tertera jelas di wajahnya, penjara sedang dalam kericuhan. Banyak tahanan yang dipaksa menjadi tentara perang, dan yang tidak mau akan langsung ditembak mati. Razaq menceritakan itu kepada Aatish, namun Aatish memohon agar ayahnya dikeluarkan dari penjara, ia juga memberi tahu bahwa sebenarnya ia adalah Parvana, anak dari Nurullah.
Razaq yang mengetahui itu hanya bisa terdiam, akhirnya Razaq mengatakan bahwa jika jam 5 ia belum keluar, maka larilah sejauh mungkin, sampai batas maksimum Parvana. Setelah itu Razaq berlari kedalam dan membawa ayah Parvana yang dianggap tidak berguna karna cacat, Razaq juga berbohong bahwa tahanan yang di gendongannya merupakan mayat saat ditanya oleh satu penjaga.
Namun, penjaga itu tahu dan langsung menodongkan senjatanya kearah ayah Parvana yang digendongan Razaq, namun Razaq menerima peluru yang ditembakkan oleh petugas itu. Hingga tepat jam 5, Razaq keluar membawa Nurullah di dalam gerobak dorong, ia langsung menyuruh Parvana membawa ayahnya pergi jauh.
Akhirnya Parvana dan ayahnya berjalan mencari tempat aman, serta ayahnya mengucapkan terimakasih sebanyak-banyaknya. Sedangkan Ibu Parvana dan Soraya yang kabur dari sepupu jauh ibunya sedang mencari tempat aman di tengah gelapnya malam, mereka saling menguatkan setelah mendapat tindasan dan cemoohan keras dari sepupu jauhnya itu.
Dari animasi ini—The Breadwinner, kita dapat melihat bagaimana kehidupan Afghanistan pada tahun 2001 di bawah kekuasaan Taliban begitu sulit, terutama bagi perempuan. Kebebasan mereka sangat dibatasi, mulai dari pendidikan, pekerjaan, hingga kebebasan untuk keluar rumah tanpa pendamping laki-laki. Melalui kisah Parvana, film ini menunjukkan bahwa di tengah keadaan yang penuh keterbatasan dan ketakutan, perempuan tetap memiliki keberanian untuk bertahan, bekerja, dan memperjuangkan keluarganya. Film ini juga menggambarkan betapa pentingnya pendidikan, kebebasan, dan hak perempuan dalam kehidupan sehari-hari.