PROLOG
Katanya, cinta adalah tempat paling aman untuk pulang.
Tempat di mana seseorang bisa melepaskan semua ketakutan, berhenti berpura-pura kuat, lalu membiarkan dirinya dicintai tanpa syarat.
Setidaknya, itu yang dulu Vara percaya.
Ia tidak pernah meminta terlalu banyak.
Tidak meminta seseorang untuk menyembuhkan lukanya.
Tidak meminta seseorang untuk memahami seluruh masa lalunya.
Bahkan tidak meminta seseorang untuk tinggal selamanya.
Ia hanya ingin tahu bagaimana rasanya menjadi seseorang yang dipilih.
Dan ketika Gavin datang, untuk pertama kalinya Vara merasa mungkin... ia akhirnya menemukan jawabannya.
Gavin datang dengan cara yang sederhana.
Dengan es krim yang dijanjikan.
Dengan jaket yang disampirkan ke pundaknya ketika udara terasa dingin.
Dengan tangan yang selalu terulur ketika langkah Vara mulai kehilangan arah.
Hal-hal kecil yang bagi orang lain mungkin tidak berarti apa-apa.
Namun bagi Vara, perhatian sekecil itu terasa seperti sesuatu yang selama ini tidak pernah ia miliki.
Ia mulai tersenyum lebih banyak.
Mulai menunggu pesan.
Mulai terbiasa mendengar namanya dipanggil dengan suara yang lembut.
Dan tanpa sadar, ia mulai percaya bahwa mungkin hidup memang masih memberinya kesempatan kedua.
Tapi tidak ada seorang pun yang pernah memberitahunya bahwa terkadang...
orang yang membuatmu merasa paling aman juga bisa menjadi orang yang paling berbahaya.
Karena Gavin tidak hanya ingin mencintai Vara.
Ia ingin memastikan Vara tidak pernah pergi.
Tidak peduli bagaimana caranya.
Tidak peduli siapa yang harus disingkirkan.
Tidak peduli berapa banyak darah yang harus jatuh untuk membuat satu hal tetap menjadi miliknya.
Sementara Vara sendiri menyimpan sesuatu yang bahkan Gavin belum tahu.
Sesuatu yang jauh lebih tua daripada hubungan mereka.
Sesuatu yang telah tumbuh bersamanya sejak ia masih terlalu kecil untuk memahami bahwa rasa sakit bisa mengubah seseorang.
Mereka berdua sama-sama memiliki luka.
Sama-sama takut ditinggalkan.
Sama-sama tidak tahu bagaimana cara mencintai tanpa menggenggam terlalu erat.
Dan mungkin itulah alasan mereka akhirnya bertemu.
Bukan untuk saling menyembuhkan.
Melainkan untuk saling menghancurkan dengan cara yang paling indah.
Karena pada akhirnya, cinta mereka tidak pernah benar-benar dimulai dari sebuah pernyataan.
Ia dimulai dari dua orang yang sama-sama takut kehilangan.
Dan ketika dua orang seperti itu saling menemukan...
tidak ada yang tahu siapa yang akan menjadi korban.
Atau siapa yang sebenarnya menjadi monster.
Sebab terkadang, orang yang paling membutuhkan cinta justru adalah orang yang paling tidak tahu bagaimana cara memberikannya.
